Benarkah Kehamilan di Usia Matang Meningkatkan Risiko Down Syndrome?
Artikel Kesehatan

Benarkah Kehamilan di Usia Matang Meningkatkan Risiko Down Syndrome?

19 Juni 2026 37 dilihat

Down syndrome merupakan salah satu kelainan genetik yang paling sering ditemukan pada bayi baru lahir. Kondisi ini terjadi akibat adanya salinan ekstra pada kromosom 21 yang memengaruhi pertumbuhan fisik, perkembangan otak, serta kemampuan belajar anak. Salah satu faktor yang diketahui dapat meningkatkan risiko terjadinya Down syndrome adalah kehamilan pada usia yang lebih matang.

 

Meski demikian, penting untuk dipahami bahwa tidak semua ibu yang hamil pada usia matang akan melahirkan anak dengan Down syndrome. Dengan pemeriksaan kehamilan yang rutin dan skrining yang tepat, risiko dapat diketahui lebih dini sehingga orang tua dapat memperoleh informasi dan penanganan yang sesuai.

 

Apa Itu Down Syndrome?

Down syndrome adalah kelainan genetik yang terjadi ketika seseorang memiliki salinan tambahan kromosom 21. Normalnya manusia memiliki 46 kromosom, namun pada penderita Down syndrome terdapat kromosom ekstra yang menyebabkan gangguan pada proses pertumbuhan dan perkembangan tubuh.

 

Kondisi ini dapat menimbulkan berbagai tingkat keterlambatan perkembangan, mulai dari ringan hingga berat, serta meningkatkan risiko beberapa masalah kesehatan tertentu.

 

Faktor Risiko Down Syndrome

Penyebab utama Down syndrome adalah kelainan kromosom yang terjadi secara spontan saat proses pembentukan sel reproduksi atau pembuahan. Beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko antara lain:

 

  • Kehamilan pada usia yang lebih matang.
  • Riwayat kehamilan sebelumnya dengan Down syndrome.
  • Riwayat kelainan kromosom dalam keluarga.
  • Kelainan kromosom tertentu pada salah satu orang tua.

 

Risiko memang cenderung meningkat seiring bertambahnya usia ibu, namun Down syndrome tetap dapat terjadi pada kehamilan usia muda.

 

Tanda dan Gejala Down Syndrome

Anak dengan Down syndrome umumnya memiliki beberapa ciri fisik khas, meskipun tidak semua anak menunjukkan gejala yang sama.

 

  • Wajah cenderung datar.
  • Mata miring ke atas.
  • Hidung kecil dengan pangkal hidung datar.
  • Telinga berukuran kecil.
  • Leher lebih pendek.
  • Tonus otot yang lemah.
  • Pertumbuhan dan perkembangan yang lebih lambat.

 

Selain ciri fisik, sebagian anak juga dapat mengalami gangguan pendengaran, gangguan penglihatan, kelainan jantung bawaan, gangguan tiroid, hingga masalah pada sistem pencernaan.

 

Pemeriksaan untuk Mendeteksi Down Syndrome

Saat ini terdapat berbagai metode pemeriksaan yang dapat membantu mendeteksi risiko Down syndrome sejak masa kehamilan.

 

  • USG kehamilan untuk melihat tanda-tanda tertentu pada janin.
  • Tes darah ibu hamil.
  • Non-Invasive Prenatal Testing (NIPT).
  • Chorionic Villus Sampling (CVS).
  • Amniosentesis.

 

Pemeriksaan tersebut dapat membantu dokter menilai risiko maupun memastikan adanya kelainan kromosom pada janin.

 

Bisakah Down Syndrome Dicegah?

Hingga saat ini belum terdapat cara yang dapat mencegah Down syndrome secara pasti karena kondisi ini disebabkan oleh perubahan kromosom yang terjadi secara alami. Namun, pemeriksaan kehamilan secara rutin dan konsultasi dengan dokter dapat membantu mendeteksi risiko lebih awal.

 

Selain itu, calon ibu dianjurkan untuk menjaga kesehatan sebelum dan selama kehamilan dengan mengonsumsi makanan bergizi seimbang, memenuhi kebutuhan asam folat, menghindari rokok dan alkohol, serta menjalani gaya hidup sehat.

 

Penanganan Down Syndrome

Down syndrome tidak dapat disembuhkan karena merupakan kondisi genetik. Meski demikian, berbagai terapi dan pendampingan dapat membantu meningkatkan kualitas hidup anak.

 

  • Fisioterapi untuk membantu perkembangan motorik.
  • Terapi wicara untuk meningkatkan kemampuan komunikasi.
  • Terapi okupasi untuk melatih kemandirian.
  • Pendidikan khusus sesuai kebutuhan anak.
  • Pemantauan kesehatan secara berkala.

 

Dengan penanganan yang tepat sejak dini, banyak anak dengan Down syndrome dapat tumbuh, belajar, dan menjalani aktivitas sehari-hari dengan lebih optimal.

 

Kesimpulan

Kehamilan di usia yang lebih matang memang dapat meningkatkan risiko Down syndrome, namun kondisi ini tidak selalu terjadi pada setiap kehamilan. Pemeriksaan prenatal yang rutin, deteksi dini, serta konsultasi dengan tenaga kesehatan menjadi langkah penting untuk memantau kesehatan ibu dan janin selama masa kehamilan.

 

Sumber: CDC, NHS, American College of Obstetricians and Gynecologists (ACOG), National Institute of Child Health and Human Development (NICHD).

Promo Promo
Promo Promo
Promo Promo
Promo Promo
Promo Promo
Geser untuk melihat promo lainnya