Waspadai Tuberkulosis (TB) pada Anak, Kenali Penyebab, Gejala, dan Cara Pencegahannya
Artikel Kesehatan

Waspadai Tuberkulosis (TB) pada Anak, Kenali Penyebab, Gejala, dan Cara Pencegahannya

22 Juni 2026 25 dilihat

Tuberkulosis (TB) tidak hanya menyerang orang dewasa, tetapi juga dapat terjadi pada anak-anak. Penyakit yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis ini umumnya menyerang paru-paru, namun pada kondisi tertentu dapat menyebar ke organ lain seperti kelenjar getah bening, tulang, hingga otak. TB pada anak perlu mendapat perhatian khusus karena sering kali gejalanya tidak khas sehingga terlambat terdeteksi.

 

Di Indonesia, kasus TB pada anak masih menjadi tantangan kesehatan yang cukup besar. Oleh karena itu, penting bagi orang tua untuk mengenali faktor risiko, gejala, serta langkah pencegahan agar penyakit ini dapat ditangani sedini mungkin.

 

Apa Itu Tuberkulosis (TB) pada Anak?

Tuberkulosis adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis. Penularan terjadi melalui percikan droplet yang keluar saat penderita TB aktif batuk, bersin, atau berbicara. Anak-anak umumnya tertular dari orang dewasa yang tinggal serumah atau sering berinteraksi dekat dengan mereka.

 

Karena sistem kekebalan tubuh anak belum sekuat orang dewasa, risiko berkembangnya infeksi menjadi penyakit TB aktif cenderung lebih tinggi, terutama pada anak usia balita.

 

Faktor Risiko TB pada Anak

Beberapa kondisi dapat meningkatkan risiko seorang anak terkena TB, antara lain:

 

  • Tinggal serumah dengan penderita TB aktif.
  • Sering berada di lingkungan dengan ventilasi yang buruk dan padat penghuni.
  • Memiliki daya tahan tubuh yang rendah.
  • Mengalami gizi kurang atau malnutrisi.
  • Belum mendapatkan imunisasi BCG.
  • Memiliki penyakit tertentu yang menurunkan sistem imun.

 

Paparan yang berlangsung dalam waktu lama terhadap penderita TB aktif menjadi faktor risiko utama penularan pada anak.

 

Gejala TB pada Anak

Gejala TB pada anak sering kali tidak spesifik dan dapat menyerupai penyakit lain. Namun, beberapa tanda yang perlu diwaspadai meliputi:

 

  • Batuk yang berlangsung lama.
  • Demam berulang atau demam yang tidak kunjung sembuh.
  • Berat badan sulit naik atau justru menurun.
  • Nafsu makan berkurang.
  • Anak tampak lemas dan kurang aktif.
  • Berkeringat berlebihan pada malam hari.
  • Pembengkakan kelenjar getah bening, terutama di leher.

 

Apabila gejala tersebut berlangsung selama beberapa minggu, sebaiknya segera konsultasikan ke dokter untuk mendapatkan pemeriksaan lebih lanjut.

 

Bagaimana TB pada Anak Didiagnosis?

Diagnosis TB pada anak dilakukan melalui kombinasi wawancara riwayat kontak dengan penderita TB, pemeriksaan fisik, pemeriksaan penunjang seperti tes tuberkulin atau IGRA, foto rontgen dada, serta pemeriksaan lainnya sesuai kebutuhan klinis.

Dokter akan menilai berbagai faktor sebelum menegakkan diagnosis karena gejala TB pada anak sering kali tidak khas.

 

Bisakah TB pada Anak Dicegah?

TB pada anak dapat dicegah melalui beberapa langkah sederhana namun penting, antara lain:

 

  • Memberikan imunisasi BCG sesuai jadwal.
  • Menghindari kontak erat dengan penderita TB aktif yang belum menjalani pengobatan.
  • Menjaga ventilasi rumah agar sirkulasi udara tetap baik.
  • Menerapkan etika batuk dan penggunaan masker bagi penderita TB.
  • Memenuhi kebutuhan gizi anak untuk menjaga daya tahan tubuh.
  • Melakukan pemeriksaan apabila terdapat anggota keluarga yang didiagnosis TB.

 

Apakah TB pada Anak Bisa Disembuhkan?

Kabar baiknya, TB pada anak dapat disembuhkan apabila terdeteksi dan ditangani dengan tepat. Pengobatan dilakukan menggunakan Obat Anti Tuberkulosis (OAT) yang harus diminum secara teratur sesuai anjuran dokter hingga pengobatan selesai.

Kepatuhan dalam menjalani pengobatan sangat penting untuk mencegah kekambuhan serta menghindari terjadinya resistensi obat.

 

Kesimpulan

Tuberkulosis pada anak masih menjadi masalah kesehatan yang perlu diwaspadai. Anak yang tinggal serumah dengan penderita TB aktif, memiliki daya tahan tubuh rendah, atau mengalami gizi kurang memiliki risiko lebih tinggi terkena penyakit ini. Mengenali gejala sejak dini, melakukan pemeriksaan segera, serta menjalankan langkah pencegahan yang tepat dapat membantu melindungi anak dari dampak serius TB.

 

Sumber: WHO, UNICEF, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, StatPearls, University of Rochester Medical Center, Asian Pacific Journal of Tropical Medicine, serta berbagai publikasi ilmiah terkait Tuberkulosis Anak.

Promo Promo
Promo Promo
Promo Promo
Promo Promo
Promo Promo
Geser untuk melihat promo lainnya